November 25, 2020

Fakta Menarik Piala Uber

Fakta Menarik Piala Uber – Jika kita mengenal Piala Thomas adalah pertandingan bulu tangkis Internasional untuk beregu pria, maka pertandingan untuk beregu putri adalah Piala Uber. Dalam penyelenggaraan kompetisi bulu tangkis internasional ini, Indonesia memiliki rekam jejak yang menarik untuk diapresiasi. Namun sebelumnya, simak ulasan mengenai sejarah penamaan Uber Cup berikut ini!

Sejarah Piala Uber Dan Data Para Pemenang Dari Tahun Ke Tahun

Sejarah Penamaan Dan Trofi Piala Uber

Nama Uber Cup ini diambil dari nama pemain legendaris bulu tangkis tahun 30-an asal Inggris H.S. Betty Uber. Kejuaraan bulu tangkis beregu putri ini pertama kali diadakan di Preston, Lancashire Inggris tepatnya pada  tahun 1957.

Dari awal dipertandingkan, Piala Uber diadakan setiap tiga tahun sekali. Namun pada tahun 1984 penyelenggaraannya berubah, digabungkan dengan Piala Thomas dan waktunya menjadi dua tahun sekali.

Desain dan pembuat Piala Uber adalah Mappin and Webb, Regenstreet London. Piala yang  terbuat dari perak dengan tinggi 20 inci ini berbentuk bola dunia. Bagian atasnya terdapat patung kecil pemain bulutangkis putri dengan posisi atau gestur sedang mengayunkan raket.

Pertandingan pertama Uber Cup diikuti oleh para pebulutangkis putri dari 11 negara dan yang menjadi juara adalah Amerika Serikat. Selama tiga kali berturut-turut dari penyelenggaraan awal kompetisi ini, Amerika Serikat selalu menjadi pemenangnya.

Tim & Prestasi Indonesia Di Piala Uber

tim piala uber indonesia

Indonesia pernah mengukir prestasi pada kejuaraan ini, atau menjadi juara dan membawa pulang piala sebanyak 3 kali. Tepatnya pada tahun 1975, 1994, dan 1996.

  • Juara Tahun 1975

Pemain putri bulu tangkis indonesia yang pertama kali membawa pulang Piala Uber (1975) adalah Tati Sumirah. Penyumbang satu-satunya angka tunggal. Pertandingan final Piala Uber 1975 diselenggarakan di Istora Senayan Jakarta. Ketika itu, Indonesia berhasil mengalahkan jepang dengan skor 5-2. Dan menjadi kemenangan pertama kali. Srikandi yang berhasil mengalahkan Jepang saat itu adalah Tati Sumirah. Keahlian dalam melakukan smash dan Lin an drophot sangat mematikanm membuat pemain Jepang kewalahan.

Pemain Indonesia yang bertanding kala itu Tuti  Sumirah, Theresia Widiastuty, Utami Dewi di nomol tunggal. Sedangkan di nomor beregu ganda : Imelda Wiguna, Regina masli dan Minarni Sudaryanto. Yang terpilih jadi kapten saat itu adalah Minarni karena ia memiliki pengalaman lebih di kejuaraan Piala Uber.

Mengawali karier profesional sebagai pemain bulu tangkis sejak awal tahun 1959. Tahun 1960 Minarni sudah mengikuti kejuaraan Uber Cup dan pernah menjadi juara di nomor ganda putri pada kejuaraan All England tahun 1968. Pasangannya saat itu adalah Retno Kustiyah.

  • Juara Tahun 1994

19 tahun kemudian, tepatnya tahun 1994 Indonesia kembali membawa pulang Piala Uber. Posisi tim diperkuat oleh Susi Susanti, Meiluawati. Sedangkan di beregu ganda oleh Finarsih/Lili Tampi, Eliza Nathanael/ Zelin Resina. Kemenangan kedua kalinya Indonesia di kejuaraan Piala Uber ini setelah berhasil mengalahkan China, dengan skor 3-2.

  • Juara Tahun 1996

Pada saat kejuaraan Uber terakhir (1996) tim Indonesia diperkuat oleh Susy Susanty, Meluawati dan Mia Udia di sektor pemain tunggal. Sedangkan di beregu ganda diperkuat oleh Eliza Nathanael – Zelin Resiana, Finarsih – Lili Tampi. Indonesia berhasil mengalahkan China dengan skor 4-1.  Setelah itu  hingga saat ini atau kejuaraan tahun 2018 kemarin Indonesia belum pernah lagi menjadi pemenang.

Daftar Juara Dan Rekor Piala Uber

Sepanjang sejarah kejuaraan Piala Uber sudah ada lima negara yang pernah menjadi juara. Tiongkok/China menjadi negara paling banyak membawa piala pulang, alias jadi juaranya yaitu sebanyak 14 kali. Kemudian disusul Jepang sebanyak 5 kali, Indonesia sebanyak 3 kali, Amerika Serikat sebanyak 3 kali dan Korea Selatan satu kali. Sedangkan Denmark, Inggris, Belanda dan Thailand belum pernah membawa pulang piala.

Untuk lebih jelas simak daftar juara dan rekor Piala Uber dari masa ke masa:

  1. Tiongkok
  • Juara Sebanyak 14 kali = 1984, 1986,1988, 1990, 1992, 1998, 2000, 2002, 2004, 2006,2008, 2012, 2014, 2016.
  • Tempat kedua sebanyak 3 kali = 1994, 1996, 2010.
  1. Jepang
  • Juara sebanyak 6 kali = 1966, 1969, 1972, 1978, 1981, 2018.
  • Tempat kedua sebanyak 2 kali = 1975. 2014.
  1. Indonesia
  • Juara sebanyak 3 kali = 1975, 1994, 1996.
  • Tempat kedua sebanyak 7 kali = 1969, 1972, 1978, 1981, 1986, 1998, 2008.
  1. Amerika Serikat
  • Juara sebanyak 3 kali = 1957, 1960, 1963.
  • Tempat kedua sebanyak 1 kali = 1966.
  1. Korea Selatan
  • Juara sebanyak 1 kali = 2010.
  • Tempat kedua sebanyak 7 kali = 1988, 1990, 1992, 2002, 2004, 2012, 2016.
  1. Denmark
  • Belum pernah juara.
  • Tempat kedua sebanyak 3 kali = 1957, 1960, 2000.
  1. Inggris
  • Belum pernah juara.
  • Tempat kedua sebanyak 2 kali = 1963, 1984.
  1. Belanda
  • Belum pernah juara.
  • Tempat kedua sebanyak 1 kali = 2006.

9.Thailand

  • Belum pernah juara.
  • Tempat kedua sebanyak 1 kali = 2018.

Perubahan Regulasi Pertandingan Bulu Tangkis Piala Uber

Sama halnya dengan kejuaraan Piala Thomas, Pada Piala Uber akan berlangsung pada tahun 2020 di Aarthus Denmark, pada tanggal 16-24 Mei 2020 mendatang. Pertandingan akan diikuti sebanyak 16 peserta dari berbagai negara yang  berlomba untuk merebut gelar tertinggi untuk kategori beregu putri. Namun untuk pencapaian tersebut bukanlah hal mudah, setiap negara harus melalui proses kualifikasi untuk bisa maju di kejuaraan Uber Cup.

Perlu diketahui oleh para pecinta olahraga bulu tangkis, pada tahun 2018 terjadi perubahan peraturan baru yang diterapkan oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), mulai dari struktur turnamen, poin, perhitungan peringat dunia, teknis partisipasi atlet, jumlah hadiah uang, peraturan service, hingga perubahan sistem skor.

Perubahan yang paling signifikan adalah struktur turnamen atau istilahnya grade. Sebelumnya turnamen dibagi menjadi empat level, sedangkan diaturan yang baru hanya tiga level. Piala Thomas masuk ke dalam grade pertama bersama 3 turnamen lain, yaitu: Uber Cup, Olimpiade, Kejuaran Dunia BWF dan Piala Sudirman.

Sementara itu, perubahan pada turnamen di grade kedua diikuti penggantian nama Super Series menjadi World Tour. Di grade ketiga menjadi bagian turnamen kontinental, yaitu terdiri dari International Challege, International Series dan Future Series.

Dampak yang signifikan terlihat juga dari perubahan poin yang menentukan peringkat dunia, awalnya ada 8 jenjang poin, sekarang menjadi 9 jenjang poin. Perubahan terjadi pula di aturan babak kualifikasi, dengan menghilangkan babak kualifikasi. Artinya jumlah peserta di level dua dan tiga di grade 2 berkurang menjadi 32 orang pebulutangkis.

Terlepas dari itu tentu ada pemain yang diuntungkan dan dirugikan. Beberapa pihak menilai ada beberapa kelemahan dan kelebihan dari sudut pandang yang beragam. Nah, menurut Anda apakah dengan adanya perubahan regulasi kejuaraan Piala Uber dan Thomas mempengaruhi jalannya pertandingan? Anda bisa tulis tanggapannya pada kolom komentar yang sudah kami sediakan.