November 25, 2020

Sejarah Di Balik Penamaan Dan Kejuaraan Piala Sudirman, Sangat Menarik Untuk Disimak

Kejuaraan bulu tangkis Piala Sudirman bisa dibilang sebagai representasi Asia, namanya terdengar sangat Indonesia. Eropa memiliki Piala Thomas dan Uber, nama tersebut diambil dari tokoh pemain bulu tangkis Eropa. Sedangkan Sudirman adalah salah satu tokoh bulu tangkis Indonesia yang memiliki peran besar terhadap perkembangan dunia olahraga bulu tangkis. Banyak kisah menarik dan heroik mewarnai perjalanan kejuaraan Piala Sudirman, penasaran seperti apakah kisahnya? Simak ulasannya berikut ini!

Sejarah Piala Sudirman

Piala Sudirman merupakan pertandingan beregu campuran bulu tangkis. Di balik penamaan Piala Sudirman adalah Drs. Sudirman atau akrab disapa Dick Sudirman. Beliau adalah salah satu pendiri Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) dan pernah menjabat sebagai ketua yaitu pada tahun 1952.

Trofi kejuaraan ini memiliki tinggi 80 cm terdiri dari lima bagian. Bagian tutupnya berbentuk Candi Borobudur, salah satu monument bersejarah dan keajaiban dunia di Indonesia. Badan piala berbentuk bola bulu tangkis “kok” berlapiskan emas 22 karat. Memiliki berat 600 gram

Pada tahun 1952, di bawah kepemimpinan Sudirman yaitu pada tahun 1952-1963 dan 1967-1981. nama Indonesia bersinar benderang di ajang kompetisi bulu tangkis internasional. Seperti memboyong pulang tujuh Piala Thomas dan satu Piala Uber dan pencapaian lainnya dari tahun 1950 sampai 1980-an.

Dalam buku biografi Suharsono Suhandinata: Diplomat Bulutangkis, Sudirman dipanggil juga dengan panggilan akrab Dick atau sang pemersatu. Pada tahun 1981 beliau adalah orang yang berperan mendamaikan Word Badminton Federation (WBF) dan International Badminton Federation (IBF) yang terpecah karena terjadi perang dingin antara blok barat dan timur.

Ketika turnamen Piala Thomas menjadi turnamen kelas beregu putra dan Uber menjadi turnamen beregu putri, Piala Sudirman hadir sebagai ajang kompetisi bulu tangkis beregu campuran. Dengan adanya Sudirman Cup maka lengkaplah sudah ragam turnamen bulu tangkis beregu dunia.

Seperti kita ketahui turnamen Thomas Cup dan Uber diselenggarakan selama dua tahun satu kali, maka kompetisi Piala Sudirman digabungkan pelaksanaannya dengan kompetisi kelas dunia (kejuaraan dunia). Kita sebagai bangsa Indonesia tentu sangat bangga akan hal ini.

Keunikan Piala Sudirman

Dalam catatan Suharsono Suhandinata, pada tahun 1981 Indonesia mengusulkan nama Sudirman dijadikan sebagai nama piala kejuaraan IBF. Usaha tersebut semakin gigih dan kencang diusulkan setelah Sudirman meninggal dunia di usia 64 tahun, pada tanggal 10 Juni 1986. Beliau dimakamkan di Taman Pemakaian Umum Tanah Kusir di Jakarta.

Kepergian sosok penting bulu tangkis nasional Indonesia membuat sahabatnya, Suharsono Suhandinata memperjuangkan nama Sudirman untuk nama kejuaraan beregu campuran. Dalam Suharsono dalam bukunya, menuturkan saat pertemuannya dengan Presiden IBF yang saat itu menjabat, Ian Parmer di Singapura tepatnya tahun 1988 ia menyindir dua nama piala bergengsi IBF, yaitu Thomas dan Uber yang digunakan sebagai penghormatan tokoh pemain bulu tangkis Eropa.

Dalam pertemuan itu dinyatakan akan ketidakpuasan dari negara-negara Asia yang berhasil menjadi juara dan memiliki tim kuat. Mengapa hanya nama-nama tokoh bulu tangkis di Eropa saja yang diambil menjadi nama kompetisi. Hal ini terkesan seolah-olah hanya Eropa yang ingin mengusai nama piala turnamen IBF.

Dorongan itulah yang menjadi dasar Presiden IBF membawa ide tersebut dalam sidang IBF yang diadakan tahun 1988. Gagasan tersebut diajukan sebagai nama turnamen baru dan pada waktu itu pula sekaligus menentukan tuan rumah pelaksanaan turnamen.

Kemudian nama Piala Sudirman sampai sekarang menjadi ajang kompetisi beregu campuran dan yang menjadi tuan rumah pertama turnamen Sudirman adalah Indonesia.

Dalam kejuaraan Piala Sudirman mempertandingkan:

  1. Nomor ganda campuran.
  2. Pertandingan tunggal putra.
  3. Pertandingan tunggal putri.
  4. Nomor ganda putra.
  5. Nomor ganda putri.

Indonesia Menjadi Tuan Rumah Di Piala Sudirman

Pertama kalinya turnamen diselenggarakan di Jakarta Indonesia pada tahun 1989. Pertandingan yang diikuti oleh 28 negara menjadi moment yang bersejarah, Indonesia mengalahkan Denmark dalam perjalanan semi final dengan scor 5-0.

Sedangkan Korea Selatan menang atas China dengan skor 3-2. Dalam perebutan juara, Indonesia bertanding dengan Korea Selatan. Pertandingan final berlangsung pada tanggal 28 Mei 1989 di Istora Senayan Jakarta.

Pertandingan saat itu super ketat dan hampir saja pertandingan dimenangkan oleh Korea karena dua partai ganda Indonesia kalah. Namun beruntung dalam partai ketiga, pemain tunggal putri Susi Susanti dapat meraih angka. Susi Susanti berhadapan dengan Lee Young Suk dan akhirnya menang lewat rubber set.

Untuk lebih jelas, berikut ini catatan tim bulu tangkis Indonesia dalam kejuaraan Piala Sudirman:

  1. Tahun 1989 = menjadi juara, mengalahkan Korea Selatan dengan skor 3-2.
  2. Tahun 1991 = runner up, dikalahkan Korea Selatan dengan skor 2-3.
  3. Tahun 1993 = runner up, dikalahkan Korea Selatan dengan skor 2-3.
  4. Tahun 1995 = runner up, dikalahkan Cina dengan skor 1-3.
  5. Tahun 1997 = semifinal, dikalahkan Cina dengan skor 2-3.
  6. Tahun 1999 = semifinal, dikalahkan Denmark dengan skor 2-3.
  7. Tahun 2001 = runner up, dikalahkan Cina dengan skor 1-3.
  8. Tahun 2003 = semifinal, dikalahkan Cina dengan skor 1-3.
  9. Tahun 2005 = runner up, dikalahkan Cina dengan skor 0-3.
  10. Tahun 2007 = runner up, dikalahkan Cina dengan skor 0-3.
  11. Tahun 2009 = semifinal, dikalahkan Korea Selatan dengan skor 1-3.
  12. Tahun 2011 = semifinal, dikalahkan Denmark dengan skor 1-3.
  13. Tahun 2013 = perempat final, dikalahkan Cina dengan skor 1-3.
  14. Tahun 2017 = tersingkir di babak penyisihan grup.

Untuk lebih jelas berikut data pemenang dan urutan kedua kejuaraan Piala Sudirman

Statistik Tim Nasional Di Piala Sudirman

china juara piala sudirman

  1. Cina
  • Menjadi juara sebanyak 11 kali = tahun 1995, 1997,1999,2001, 2005, 2007, 2009, 2011, 2013, 2015, 2019.
  • Tempat kedua sebanyak 2 kali = tahun 2003, 2017.
  1. Korea Selatan
  • Menjadi juara sebanyak 4 kali = tahun 1991, 1993, 2003, 2017.
  • Tempat kedua sebanyak 4 kali = tahun 1989, 1997, 2009, 2013.
  1. Indonesia
  • Menjadi juara sebanyak 1 kali = tahun 1989.
  • Tempat kedua sebanyak 6 kali = tahun 1991, 1993, 1995, 2001, 2005, 2007.
  1. Denmark
  • Belum pernah menjadi juara.
  • Tempat kedua sebanyak 2 kali = tahun 1999, 2011.
  1. Jepang
  • Belum pernah menjadi juara.
  • Tempat kedua sebanyak 1 kali = tahun 2015.

Dalam kejuaraan ini tidak ada hadiah uang, para pemain tampil demi negara dan untuk memperbaiki posisi mereka di kejuaraan peringkat dunia BWF.  Semangat para atlet untuk mengukir prestasi dan nama baik bangsa patut diapresiasi. Dari banyaknya nama-nama atlet, siapakah yang menjadi favorit pembaca? Bisa tinggalkan comment di kolom yang sudah kami sediakan. Baca juga artikel lainnya, seperti Piala Thomas dan Uber atau tulisan menarik lainnya masih di situs ini.